Jumat, 20 September 2019

susah bersyukur

Dengan mantap gue melangkah menuju ruang lab komputer. Hari ini ulangan harian IPS, dan karena ini bidangnya gue, gue yakin pasti bakal dapet 100. Begitulah pikiran jumawa gue saat itu.

Suasana lab komputer ricuh. Cewek-cewek pada teriak-teriak lebay, padahal belum dimulai juga. Udah ada yang ngomong ngalor-ngidul padahal belum tentu dia bakalan diremed/soal susah. Dan berbagai kehebohan khas anak-anak labil lainnya yang sangat menusuk kuping gue.

Sementara itu, gue berusaha fokus. Tekad gue bakalan dapet 100 di ulangan kali ini.

Ditengah proses pengerjaan itu gue kebawa emosi dan marah-marah. Gue orangnya memang susah mengontrol emosi. Bawaannya pengen marah mulu tiap kali liat seseorang melakukan suatu hal yang gue anggap bodoh. Gue kan mikirnya gini, 'ih kok bisa-bisanya dia ngelakuin itu, gak dipikirin dulu apa?'. Padahal, kalimat tersebut lebih pantas gue tunjukkan untuk diri gue sendiri.

Setelah perenungan, gue tahu hal tersebut terjadi sama gue karena gue pikir gue terlalu sok pinter, sehingga setiap kali orang berbuat hal (yang gue anggap) bodoh, gue gak bisa nahan emosi. Gregetan pengen teriak di kuping tu orang, "lo alay banget sih!"

Dan itulah salah satu fatal flaw gue.

Gue udah coba berbagai cara. Beristighfar, berdoa, hitung mundur, dan atur napas. Tapi gak ada yang mempan untuk meredakan gue dari emosi akibat menyaksikan perbuatan tolol orang-orang. Yang ada gue jadi berasa kayak bom aja pas nyoba hitung mundur. 10.. 9... 8.. 7... 6.. 5.. 4... 3... 2.. 1...

sumber: google.com

Sifat tolol gue mendapatkan buah pahitnya. Akibat sibuk marah-marah, gabisa kalem ngadepin orang-orang lebay ketika ulangan didalem ruang lab kurang udara, gue akhirnya dapet nilai 90. Gak jauh dari target gue, dan gue pun puas dengan nilainya. Tapi tunggu dulu, kejutan lain tak sabar untuk ngagetin.

Lo: *ngerjain ulangan kurang serius*
Ulangan: *hasilnya jeblok*
Lo:
apaan sih gaje
Ternyata, nilai yang gue peroleh bukanlah yang tertinggi. Ada banyak orang yang nilainya lebih tinggi daripada gue. Dalam hati gue merasa malu, masa calon peserta OSN IPS nilai ulangan IPS nya bukan yang terbaik? Begitulah kesedihan yang gue alami saat itu.

Ada yang nilainya 93, bahkan 97 (salah 1 soal). Gue pun menyesal, seandainya gue gak fokus nyuruh orang biar gak berisik, gue pun bisa meraih nilai lebih daripada 90. Kepala gue mumet, gara-gara lebih merhatiin masalah yang mengalihkan gue dari tujuan gue daripada tujuan itu sendiri.

Dan sialnya, gue tau ada beberapa orang yang nilainya bagus tapi tidak jujur. Sayang sekali, mereka mendapat banyak pujian tetapi palsu. Dibandingkan yang nilainya rendah tetapi jujur. Tapi gue gabisa terus terang (untuk sekarang). Karena ada beberapa faktor yang bikin gue gabisa menceritakan hal ini kesiapapun. Salah satunya adalah karena si tersangka yang sedang kita bicarakan ini orangnya charming-manipulatif. Tapi orang-orang pada gasadar dia psikopat saking charming-nya dia.

Haduh, jadi curhat kemana-mana kan.

Saat ini gue sedang memikul dua beban yang berat. Beban pertama, adalah harus menjadi anak paling hebat di pelajaran IPS (karena terpilih seleksi OSN sekolah). Beban kedua, adalah harus mencetak rangking 1 kembali, kalau bisa dengan rangking 1 umum seperti dulu. Dan ini susah sekali mengingat guru-gurunya yang sekarang memiliki berbagai watak yang berbeda, dimana gue kurang terbiasa dengan beberapa sikap mereka. Lalu gue dituntut harus yang paling bagus disetiap mata pelajaran. Gue ingin seperti diri gue yang dulu, selalu bersyukur berapapun nilai yang gue dapat. Sebab dulu gue gak punya keinginan untuk rangking 1 sama sekali. Apalagi juara umum, yang baru gue tau bahwa juara umum eksis di sekolah setelah mendapatkannya. Keduanya merupakan hal paling tidak terduga yang terjadi sama gue tahun lalu.

Sekarang gue susah bersyukur. Saat menjadi yang terbaiklah gue baru melakukannya. Jangan ditiru, ya.

Ada banyak perasaan yang muncul ketika tau nilai gue disalip nilai orang. Ada iri, merasa tidak adil, takut kehilangan rangking, takut tidak dianggap lagi menjadi siswa yang paling top. Dll, dsb, dst.

Gue bisa saja tidak memusingkan perihal ranking. Gue bisa belajar dengan bahagia seperti tahun lalu. Tapi bisakah gue melepaskan beban itu dengan mudahnya? Bagaimana dengan orang-orang yang nantinya akan gue kecewakan? Bagaimana jika gue tidak kuat menerima hinaan dari orang-orang?

Susah besyukur, padahal banyak orang yang nilainya dibawah gue. Gue hanya melihat mereka yang nilainya diatas gue.

Mungkin seharusnya gue gak perlu nulis panjang-panjang, karena hanya ada satu kalimat yang bisa jadi menjelaskan semuanya. Satu kalimat yang gue berusaha tampik dari dalam diri gue sendiri.

Nafsu untuk menjadi yang terbaik.